Growing Pain

“Ampun bu… Ampun…” Si gadis kecil menghamba pada Ibu kandungnya sendiri dengan tubuhnya yang menggigil luar biasa akibat dinginnya air kamar mandi yang disiram paksa oleh sang Ibu sekaligus menahan luapan air mata yang tak henti-hentinya mengucur dari mata si gadis kecil.

Ini kisah tentang seorang gadis kecil, anak pertama yang lahir dari sepasang suami-isti yang tampan dan cantik. Tidak sampai satu bulan setelah pernikahan mereka, sang istri pun hamil. Sayangnya demi memenuhi kebutuhan materi si jabang bayi, sang suami harus dinas jauh di luar pulau. Tepat sembilan bulan kemudian tepat di tengah malam, sang Ibu mengalami kontraksi. Di bangsal rumah sakit katolik tua yang sepi dan dingin si gadis kecil lahir tanpa di saksikan siapa pun kecuali sang Ibu, seorang dokter dan seorang suster.

Permasalahan perekonomian keluarga kecil ini tak kunjung menemui titik terang yang menyebabkan sang Ibu harus bekerja beberapa hari setelah ia melahirkan. Si gadis kecil pun dititipkan di kediaman sang Nenek. Gadis kecil memiliki masa kecil yang bebas; ia bebas berlari di gang-gang kecil, memanjat pohon maupun genting, tertawa dan berimajinasi di bawah teriknya langit kota metropolitan. Namun ia tidak memiliki sosok orang tua yang hadir dalam masa kecilnya, ia dapat menatap wajah kedua orang tuanya hanya beberapa detik sebelum ia terlelap. Sejatinya ia tidak pernah mengenal kedua sosok yang selalu tidur di sampingnya.

“Anak kurang ajar! Sudah dibilangi, diulangi terus! Kamu sengaja ya?!” Seikat sapu lidi dipukulkan sangat keras ke punggung si gadis kecil. Ia hanya menangis dan memohon ampun namun sang Ibu tidak peduli.

Sebagai gadis kecil berjiwa bebas aktivitas berlebihan si gadis kecil kerap dijadikan kambing hitam atas kelelahannya di senja dan malam hari. Sang nenek biasa memijat kaki si gadis kecil saat ia mengeluhkan nyeri di tulang kering dan pahanya namun yang dilakukan sang Ibu hanyalah abai. Bahkan makian yang akan didapatkan si gadis kecil bilamana ia mengeluh di depan sang Ibu.

Meski tidak dianggap pintar dan tidak pernah mendapatkan peringkat 10 besar di kelas, sebenarnya si gadis kecil adalah anak yang cerdas dan kreatif. Imajinasinya luar biasa, idenya beragam dan ia gemar merenung tentang petualangan besar mengelilingi dunia ketika ia dewasa nanti. Seorang anak kecil yang belum masuk sekolah dasar sudah memiliki agan sebesar itu.

Di sisi lain, meskipun ibunya selalu melampiaskan depresi dan frustasi kepada si gadis kecil melalui berbagai tindak kekerasan, diam-diam si gadis menikmati rasa sakit yang diberikan sang Ibu. Rasa benci dan rasa sayang si gadis pada sang Ibu merupakan suatu paradoks yang tak terelakkan. “Teruskan bu… Aku sayang Ibu.” Bisik si gadis kecil dalam tangis pilunya di malam hari saat tidak ada siapapun yang melihatnya. Tidak ada yang peduli pada si gadis kecil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: